60 Menit Terapi Shalat Bahagia
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Buku 60 menit terapi sholat bahagia ditulis oleh Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag. Beliau dilahirkan di soko Glagah Lamongan Jawa Timur pada tanggal 9 juni 1957. Almuni Ponpes Ihyaul Ulum Gersik (1975), sebagai dosen besar pasca Sarjana UIN Sunana Ampel Surabaya (sejak 2004), Dosen teladan Nasional (2004 dan 2007), Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (2000-2004), Pengurus Pembaca dan Penghafal Al Qur‟an Jatim (1994), Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI 2009-2013), Unsur Ketua Majlis Ulama Indonesia Jawa Timur, Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim (2011-sekarang), Konsultan Pendidikan Yayasan Khadijah (2011-sekarang), Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur‟an, Asesor Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi, Saksi Ahli Mahkamah Konstitusi tentang UU Penodaan Agama, Penasehat Forum Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur‟an Al Khoziny Sidoarjo (1990-2009), Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Kyai Ibrahim Surabaya, Penasehat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (2002), Pengisi Mimbar Islam di TVRI Jatim, Kajian Terapi Shalat Bahagia di RRI Jakarta pro.1 dan 4 (91.2 FM dan 92.8 FM) dan Radio El Victor Surabaya 93.3 FM. 68 68 Imam shalat taraweh/penceramah Islam di Hongkong, Macau, Senzhen, Taiwan (2000-sekarang), Malaysia (2004), Jepang (2006 dan 2013), Iran (2008, 2009,2010), Mauritius-Afrika (2000), Inggris (2005), Belanda (2007), Bangladesh (2013, 2014, 2015) dan Nepal (2015). Buku ini ditulis dengan bahas yang lugas, menarik dan mudah dipahami. Banyak yang sudah membaca buku ini dan mempraktekannya dan mayoritas telah merasakan sensasi yang luar biasa dalam penyelesaian masalah hidup. Untuk bisa menghayati shalat, mutlak diperlukan pemahaman apa arti tuntunan bacaan doa yang ada didalamnya. Suatu hal yang aneh, jika kita setiap melakukan ibadah shalat hanya melakukan gerakan dengan membaca geraka doa shalat, namun kita tidak mengerti dan memahami apa yang kita katakan kepada Allah SWT. Dengan ada nya buku 60 menit terapi sholat bahagia dan acara seminar yang di adakan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag yang dikenal dengan PTSB (Pendalaman Terapi Shalat Bahagia), memberi bimbingan dan praktek shalat agar kita memahami dan mengingatnya dengan kuat dan bisa memantapkan keyakinan dan kebesaran Allah, percara diri, dan optimis akan penyelesaian semua hidup bahagia. Pada tanggal 23 November 2019, saya bersama teman-teman melakukan kelas wada' mata kuliah studi Al-Qur'an yang di isi dengan seminar PTSB yang di bimbing langsung oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag. Kita dapat merahih kebahagiaan melalui shalat. Sholat merupakan salah satu rukun Islam kedua setelah syahadat yang diwajibkan untuk dilakukan bagi seluruh pemeluk agama Islam. Secara bahasa salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, Ibadah. Sedangkan, menurut istilah, salat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Sholat adalah cara bagaimana seorang hamba bisa berkomunikasi dan lebih dekat dengan Tuhannya. Allah SWT berfirman, “Sungguh beruntung (berbahagia) orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. Al-Mukminun [23]: 1-2). Ayat ini bisa dipahami bahwa keinginan, kedamaian, ketentraman, dan ketenangan hanya bisa digapai oleh orang-orang yang beriman.Keimanan itu, antara lain ditandai dengan kekhusyukan dalam shalatnya. Allah SWT berfirman, “Dan tegakkan shalat untuk mengingat-ku” (QS. Thaha [20]: 14. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (QS. Ar-Ra’du [13]: 28. Shalat yang khusuk menjadi pengokoh keimanan seseorang, ia semakin yakin dan percaya bahwa Allah SWT Maha Kuasa, Maha Adil, Tidak Sewenang-wenang dengan Kemahakuasaan-Nya dan Maha Bijaksana. Rasulullah SWT selalu mencari ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan melalui shalat. Pada detik-detik shalat itulah belia merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Buku 60 menit terapi sholat bahagia ditulis oleh Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag. Beliau dilahirkan di soko Glagah Lamongan Jawa Timur pada tanggal 9 juni 1957. Almuni Ponpes Ihyaul Ulum Gersik (1975), sebagai dosen besar pasca Sarjana UIN Sunana Ampel Surabaya (sejak 2004), Dosen teladan Nasional (2004 dan 2007), Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (2000-2004), Pengurus Pembaca dan Penghafal Al Qur‟an Jatim (1994), Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI 2009-2013), Unsur Ketua Majlis Ulama Indonesia Jawa Timur, Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim (2011-sekarang), Konsultan Pendidikan Yayasan Khadijah (2011-sekarang), Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur‟an, Asesor Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi, Saksi Ahli Mahkamah Konstitusi tentang UU Penodaan Agama, Penasehat Forum Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur‟an Al Khoziny Sidoarjo (1990-2009), Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Kyai Ibrahim Surabaya, Penasehat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (2002), Pengisi Mimbar Islam di TVRI Jatim, Kajian Terapi Shalat Bahagia di RRI Jakarta pro.1 dan 4 (91.2 FM dan 92.8 FM) dan Radio El Victor Surabaya 93.3 FM. 68 68 Imam shalat taraweh/penceramah Islam di Hongkong, Macau, Senzhen, Taiwan (2000-sekarang), Malaysia (2004), Jepang (2006 dan 2013), Iran (2008, 2009,2010), Mauritius-Afrika (2000), Inggris (2005), Belanda (2007), Bangladesh (2013, 2014, 2015) dan Nepal (2015). Buku ini ditulis dengan bahas yang lugas, menarik dan mudah dipahami. Banyak yang sudah membaca buku ini dan mempraktekannya dan mayoritas telah merasakan sensasi yang luar biasa dalam penyelesaian masalah hidup. Untuk bisa menghayati shalat, mutlak diperlukan pemahaman apa arti tuntunan bacaan doa yang ada didalamnya. Suatu hal yang aneh, jika kita setiap melakukan ibadah shalat hanya melakukan gerakan dengan membaca geraka doa shalat, namun kita tidak mengerti dan memahami apa yang kita katakan kepada Allah SWT. Dengan ada nya buku 60 menit terapi sholat bahagia dan acara seminar yang di adakan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag yang dikenal dengan PTSB (Pendalaman Terapi Shalat Bahagia), memberi bimbingan dan praktek shalat agar kita memahami dan mengingatnya dengan kuat dan bisa memantapkan keyakinan dan kebesaran Allah, percara diri, dan optimis akan penyelesaian semua hidup bahagia. Pada tanggal 23 November 2019, saya bersama teman-teman melakukan kelas wada' mata kuliah studi Al-Qur'an yang di isi dengan seminar PTSB yang di bimbing langsung oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag. Kita dapat merahih kebahagiaan melalui shalat. Sholat merupakan salah satu rukun Islam kedua setelah syahadat yang diwajibkan untuk dilakukan bagi seluruh pemeluk agama Islam. Secara bahasa salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, Ibadah. Sedangkan, menurut istilah, salat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Sholat adalah cara bagaimana seorang hamba bisa berkomunikasi dan lebih dekat dengan Tuhannya. Allah SWT berfirman, “Sungguh beruntung (berbahagia) orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. Al-Mukminun [23]: 1-2). Ayat ini bisa dipahami bahwa keinginan, kedamaian, ketentraman, dan ketenangan hanya bisa digapai oleh orang-orang yang beriman.Keimanan itu, antara lain ditandai dengan kekhusyukan dalam shalatnya. Allah SWT berfirman, “Dan tegakkan shalat untuk mengingat-ku” (QS. Thaha [20]: 14. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (QS. Ar-Ra’du [13]: 28. Shalat yang khusuk menjadi pengokoh keimanan seseorang, ia semakin yakin dan percaya bahwa Allah SWT Maha Kuasa, Maha Adil, Tidak Sewenang-wenang dengan Kemahakuasaan-Nya dan Maha Bijaksana. Rasulullah SWT selalu mencari ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan melalui shalat. Pada detik-detik shalat itulah belia merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Makna setiap gerakan shalat
Takbir dan Doa Pembuka
Takbir
pembukaan shalat (takbiratul ihram) dilakukan dengan menghadapkan kedua
telapak tangan ke arah ka’bah, sedangkan bagian luarnya membelakangi dunia.
Kita hadapkan hati kita kepada pemilik ka’bah dan kita lupakan semua urusan
duniawi.
Menurut
Khalid Abu Syadi (2008: 16), takbir itu menghapus dua virus yang berbahaya, yaitu anggapan adanya sesuatu
yang lebih besar dari Allah atau sebanding dengan-Nya, dan virus superioritas
diri: merasa dirinya lebih mulia, lebih suci, lebih shaleh, lebih penting dari
orang lain.
Takbir
Rasulullah SAW
1.
Kedua
tangan diangkat setinggi dada (HR. Abu Daud) atau di atas daun telinga (HR. Al
Baihaqi) atau sejajar dengan telinga (HR. Muslim) atau sejajar dengan
pundak (HR. Al Bukhari).
2.
Telapak
tangan dihadapkan kea rah kiblat dengan jari-jari telapak tangan tidak terlalu
rapat dan tidak terlalu renggang (HR. Al Baihaqi).
3.
Tangan
kanan memegang pergelangan tangan kiri, diletakkan di dada (HR. Al Tirmidzi)
atau di atas pusar (HR. Abu Daud) atau di bawah pusar (HR. Abu Daud) atau
tangan dilepaskan lurus ke bawah atau posisi tidak bersedekap. (HR. Abu Daud).
Hal yang terpenting
yang harus dihayati dalam doa pembuka. Pertama , ikhlas: hanya menyembah dan
meminta kepada Allah SWT. Kedua, sanjungan: mengagungkan Allah yang Maha Esa,
Maha Besar, Maha Suci, Maha Pemberi Petunjuk, Maha Pengampun, dan Maha Pemberi
nikmat. Ketiga, ampunan: memohon ampunan kepada Allah SWT, sekaligus memohon
dijauhkan dari perbuatan dosa. Ketiga hal tersebut dapat disingkat dengan
singkatan ISA (Ikhlas, Sanjungan dan Ampunan).
Perbanyaklah doa di
dalam shalat dari pada setelaahnya lebih baik di dalam shalat iya di luar
shalat juga iya. Renungan di lakukan di sujud ke dua karena supaya jika
renungan dilakukan di sujud pertama ditakuti sujud yang kedua itu lupa.
BAGAN TERAPI SHALAT
BAHAGIA
A.
Tawakal,
Tumakninah, dan Qana’ah (T2Q)
Shalat dilakunkan
dengan penghayatan bisa menguatkan keimanan dan sifat tawakal. Dengan keimanan
dan tawakal, seseorang bisa mengarah 60.000 pikiran untuk bersifat optimis,
pantang menyerah, bahkan menikmati tantangan yang dihadapinya. Dengan tawakal
dan keimanan, seseorang bisa membuang “emosi negatif” yaitu beban masalah yang
memberatkan jiwanya. Beban masalah itu hilangan karena penyerahan diri yang
sepenuh hati kepada Allah. Allah tidak akan mengambil alih penyelesaian
masalah-masalah yang di hadapi seseorang jika ia tawakal hanya setengah hati.
Tumakninah (thuma’ninah)
yaitu tenang, sabar, dan tidak tergesa-gesa. Rukuk, bangkit dari rukuk, sujud,
dan seterusnya harus dikerjakan dengan perlahan-lahan. Sikap tumakninah dalam
shalat menyelamatkan kita dari penyakit burry sickness, serba
terburu-buru, serba tidak sabar (impatience), yang semuanya menjadi
sumber kegelisahan dan konflik.
Shalat sebagai ekspresi
syukur juga membentuk pribadi yang qana’ah (menerima yang ada). Shalat
khusuk merasa sangat senang dengan karunia Allah yang telah diterima, dan puas
dengan apa yang ada. Semakin banyak daftar keinginan, semakin tinggi resiko
kegelisahan. Orang bijak berkata, “Kebahagiaan tidak diraih dengan jerih payah,
tetapi dengan mengurangi keinginan.
Jika peshalat telah
berhasil menanamkan jiwa T2Q (tawakal, tumakninah, dan qana’ah), maka ia tidak
hanya berbahagia, tapi juga membahagiakan orang lain. Tutur kata enak di
dengar, sikapnya santun, merendah dan lebih suka memberi dari pada menerima.
B.
Pokok-Pokok
Renungan Shalat
Di dalam shalat ada
gerakan yang utama yaitu berdiri, rukuk, bangun dari rukuk, sujud, sujud
diantara dua sujud dan tasyahud. Masing-masing gerakan itu harus dilakukan
dengan tenang dan penuh penghayatan. Penghayatan dilakukan dengan cara diam
sejenak sebelum atau sesudah membaca doa untuk merenungi poin-poin penting
dalam doa pada setiap gerakan.
1.
Berdiri
Pada posisi berdiri hanya surat Al-Fatihah yang wajib dibaca,
maka yang paling utama diingat adalah inti surat Al-Fatihah, yaitu (SUBHAN):
a.
Syukur
kepada Allah SWT
“Wahai Allah, aku bersyukur atas semua nikmat-Mu”, kita
bersyukuratas semua anugerah Allah yang Maha menguasai dan mengatur alam
semesta, Maha Memenuhi kebutuhan manusia, Maha Pengasih dan Maha pemurah.
Selama jantung masih berdetak, selama itu pula nikmat Allah mengalir. Setiap
detik Allah SWT sibuk mengurus
kita, maka seharusnya setiap detik kita wajib mengingat dan mensyukuri
nikmat-Nya.
Dalam posisi berdiri dalam shalat, ingatlah semua nikmat yang
telah di berikan Allah kepada kita dan harus mensyukurinya.
b.
Bimbingan
Allah SWT
“Bimbinglah aku dan keluargaku agar tetap di jalan yang
benar”. Kita diberikan akal oleh Allah, tetapi tidak akan bisa menemukan
kebenaran dengan akal semata tanpa petunjuk Allah. Manusia tidak bisa melakukan
kebaikan atau meninggalkan maksiat tanpa bimbingan Allah. Hanya Allah yang bisa
meluruskan hati dan melembutkan hati manusia.
c.
Ketahanan
Iman
“Berikan aku ketahanan iman untuk melawn hawa nafsu agar
selamat dari kesesatan dan murkamu”. Iman seseorang itu selalu naik dan turun.
Kita memohon kepada Allah untuk ketahanan iman agar menjadi hamba yang
dirahmati-Nya (an’amta ‘alaihim), dan memiliki kekuatan untuk melawan
hawa nafsu. Fodaan hawa nafsu itu berat, hawa nafsu itu bias berupa: harta,
tahta, dan cinta. Minta ketahanan iman untuk menundukkan hawa nafsu.
Posisi anggota badan saat berdiri antara lain:
1)
Renggangkan
kaki, angkatlah tangan untuk takbir sejajar dengan daun telinga.
2)
Hadapkan
telapak tangan ke kiblat dengan jari yang tidak rapat dan tidak terlalu
renggang.
3)
Pegang
pergelangan tangan kiri dan letakkan diatas pusar.
4)
Arahkan
pandangan ke titik tempat dahi bersujud.
5)
Posisikan
pundak secara santai dan jangan di angkat.
2.
Rukuk
Rukuk adalah posisi dimana seorang muslim membugkuk untuk
menyatakan hormat terhadap perintah dan kebesaran Allah, dan kesediaan kita
untuk “dipenggal lehernya” di jalan Allah. Rukuk sejaji penangkal stres, serius
istighfar, meraih kemuliaan, tidak boleh bicara aq orang yang terhormat, kaya
penting karena saat itu kita tunduk kepada Allah. Ada dua hal yang harus di
hayati dalam posisi rukuk yaitu TURUT:
a.
Tunduk
kepada kehendak Allah
“Wahai Allah aku tunduk dan membungkuk kepada kehendak-Mu.
Aku bertasbih dan menyerahkan hidup-matiku, sehat-sakit, kaya-miskin dan semua
persoalan dan harapan kepada Allah”. Dalam posisi ini, kita sedang membukuk
dengan perasaan hina, kecil, lemah, dan bodoh di hadapan Allah yang Maha Besar.
Allah paling mengetahui yang terbaik untuk kita dan menerima apa yang telah
menjadi kehendak-Nya.
Jika ada organ tubuh yang sakit, fokuskan doa dan kepasrahan
untuk organ tersebut, demikian juga doa pasrahkan anda untuk seseorang dari anggota
keluarga atau teman yang anda harapkan berubah menjadi pribadi yang sholeh.
b.
Menurut
kepada semua perintah Allah
“Aku menurut kepada semua perintah-Mu. Ampunilah
dosa-dosaku”. Kita berikrar syahadat untuk menurut kepada perintah Allah, tapi
kita sering mengingkarinya. Oleh sebab itu dalam rukuk, kita juga mohon ampunan
atas pelanggaran atau kemaksiatan itu.
Posisi anggota badan saat rukuk antara lain:
1)
Luruskan
punggung dan kepala secara horizontal.
2)
Letakkan
kedua tangan di lutut atau di bawahnya.
3.
Bangkit
dari Rukuk (I’tidal)
I’tidal (bangkit dari
rukuk) dan makna filosofinya, ada dua hal yang perlu di hayati yaitu HADIR:
a.
Hak
Puji
“Hanya engkau yang berhak di puji. Ampunilah aku karena
terlintasmengharap pujian dari manusia”. Segala puji hanya untuk Allah SWT.
Dialah satu-satunya yang berhak untuk dipuji. Dia Maha Kuasa, Penguasa langit
dan bumi, dan maha pemberi. Hak puji hanya milik Allah.
b.
Takdir
“Semua hal terjadi atas takdir-Mu. Aku ridla dan ikhlas
menerimanya”. Semua yang terjadi atas rencana Allah, kehendak dan ketetapan
Allah. Jika Allah berkehendak memberi sesuatu, tidak ada satupun kekuatan bisa
menghalanginya. Kita harus menerima dengan senang hati semua keputusan Allah
yang menyangkut hidup dan mati kita.
Posisi anggota badan saat I’tidal antara lain:
1)
Angkat
kepala dan tegakkan tulang rusuk dengan tangan diangkat sejajar dengan daun
telinga.
2)
Posisikan
pundak secara santai dengan melepaskan tangan lurus ke bawah.
4.
Sujud
Sujud adalah posisi yang paling agung dalam shalat. Di dalam
sujud seseorang tidak bisa menoleh ke manapun kecuali menghadap Allah. Sudud
merupakan symbol kedekatan, sujud merupakan posisi terdekat antara manusia
dengan Allah. Dengan sujud, kita menunjukkan kehinaan di hadapan Allah SWT.
Menginggat diri akan empat tahap menuju jalan Allah. Sujud pertama symbol
penciptaan kita dari tanah, bangun dari sujud symbol kehidupan di dunia, sujud
ke dua simbol kematian dan bangun dari sujud ke dua symbol hari kebangkitan
dihari kiamat.
Dalam keadaan sujud kita membaca tahmid setelah tasbih. Berarti penyucian harus di
dahulukan dari pada pemujaan. Setelah itu, barulah kita mengajukan permohonan
cahara (nur) Allah dan meminta pengampunan (maghfirah)-Nya.
Berdasarkan doa dan makna filosofis sujud, ada tiga pokok
penting yang harus di hayati yaitu: MASJID
a.
Maaf
“Maafkan dosa-dosaku, dosa bapak-ibu dan keluargaku”, kita
mohon maaf kepada Allah atas semua dosa kita dan keluarga kita.
b.
Sinar
Allah
“Sinarilah hati, lidah, mata, dan telingaku agar selalu
berbuat yang engkau ridlai”, kita mohon sinar Allah untuk semua anggota badan
kita, agar bisa menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan semua
larangan-Nya dengan mudah.
c.
Jiwa
dan Raga
“Jiwa dan ragaku dalam kekuasaan-Mu. Aku serahkan hidup-mati,
sehat-sakit, kaya-miskin, dan semua persoalaan kepada-Mu. Dengan kekuasaan-Nya,
Allah bisa melakukan apa saja terhadap diri kita, jiwa dan raga kita adad dalam
genggaman Allah SWT. Dalam posisi ini kita dalam keadaan membungkuk dengan rasa
hina, kecil da bodoh dihadapn Allah yang
Maha Besar.
Kita beriktiyar dengan maksimal apa yang menjadi keinginan
kita, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah. Yakin dan rasakan lah bahwa
semua persoalan hidup telah diambil alih penyelesaiannya oleh Allah.
Posisi anggota badan saat sujud antara lain:
1)
Letakkan
ke lantai: dahi, du telapak tangan, dua lutut, dan ujung telapak dua kaki.
2)
Posisikan
tangan sejajar dengan telinga dengan jari yang dirapatkan.
3)
Renggangkan
siku tangan (bagi pria) dan rapatkan (bagi perempuan.
4)
Angkat
pinggul secara vertical lurus dengan paha, sehingga berat badan bertumpu di
dahi.
5)
Rapatkan
dua kaki, dengan menekan ujung telapak kaki ke lantai sejajar dengan pinggul
yang dianggkat.
5.
Dukuk
Antara Dua Sujud
Doa dalam posisi ini adalah doa yang paling lengkap, karena
mencangkup kebutuhan dunia dan akhirat yaitu ampunan, kasih sayang,
kesejahteraan, dan keimanan. Berdasarkan doa dalam posisi ini, ada empat macam
permohonan penting yaitu: AKSI
a.
Ampunan
Ampunan Allah atas semua dosa. Hampir tidak ada hari kita
lewati tanpa dosa. Tanpa ada ampunan dari Allah, kita pasti menjadi manusia
paling sengsara di akhirat (minal khasirin).
b.
Kasih
sayang
Kasih sayang merupakan sebuah (rahmat) dari Allah.
c.
Sejahtera
Makna dari sejahtera adalah terpenuhinya kebutuhan hidup,
jasmani, dan rohani. Kita mohon meminta kesehatan dan rizki yang banyak dengan
niat mendapatkan kemudahan ibadah.
d.
Iman
Iman yang kokok dan petunjuk sepanjang waktu. Kita
menbutuhkan penguatan iman dan limpahan hidayah dari Allah.
Posisi anggota badan
saat dukuk antara dua sujud antara lain:
1)
Hamparkan
kaki kiri dan duduklah diatasnya.
2)
Tegakkan
telapak kaki kiri kanan dan tekuklah ujung jari-jari untuk di hadapkan ke
kiblat.
3)
Luruskan
punggung dan kepala secara vertical (tidak membungkuk).
6.
Tasyahud
Posisi ini dinamakan tasyahud karena didalamnya ada bacaan
“syahadat”, sebuah ikrarar keimanan “Tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad
utusan Allah. Dari beberapa tasyahud dan makna filosofis didalamnya ada poin
penting ynag harus dihayati yaitu SOSIAL:
a.
Shalawat
“Sholawat dan salam untuk Nabi SAW. berikan aku kekuatan
menyontoh akhlaknya”, shalawat sebagai ucapan terima kasih atas jasa Nabi
Muhammad SAW yang mengenalkan Allah kepada kita dan membimbingnya cara
beribaadah kepada-Nya. Salam (doa keselamatan) juga kita memohonkan untuk diri
sendiri dan semua orang shaleh.
b.
Persaksian
“Aku bersaksi, ‘Tiada tuhan selain Engkau, dan Muhammad
adalah utusan-Mu’. Jadikan syahadat pegangan dan panutup hidupku”.
c.
Tawakal
“Aku serahkan hidup-mati, sehat-sakit, kaya-miskin dan semua
persoalan kepada-Mu”. Kita serahkan sepenuhnya apapun hasil yang diberikan
Allah setelah ikhtiar yang maksimal.
Posisi anggota badan saat tasyahud antara lain:
1)
Tasyahud
pertama: duduklah seperti posisi duduk antara dua sujud.
2)
Tasyahud
kedua:
a)
Tegakkan
kaki kanan denagn jari-jari dihadapkan ke kiblat.
b)
Lipatlah
kaki kiri kebawah kaki kanan dan dudukkan pinggul di lantai.
c)
Arahkan
pandangan mata ke jari telunjuk yang diangkat sedikit menjulang.
d)
Biarkan
kedua lengan di atas paha tertekuk secara santai, jangan dilususkan.
e)
Lusurkan
punggung dan kepala secara vertical (tidak membungkuk).
Jangan terlintas sedikitpun dalam hati kita “Shalatku
lebih baik dari sahalatnya” atau “Aku lebih baik dari pada Dia”. Semoga Allah
selalu menology kita dan di jauhkan dari sifat kibr (sombong) agar tidak
mengotori kesucian hati, mengurangi kedamaian batin dan menghapus pahala
shalatnya. Begitulah sekilas isi rangkaian acara Pendalaman Terapi Shalat Bahagia yang telah di ikuti oleh mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya semoga bermanfaat. Amin
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Nur Aini
Muflihatin
(B75219070)
